“Hore,” semua murid bersorak setelah mendengar bunyi bel
dari pengeras suara di depan kelasku, kelas X-1 Man model bangkalan
Seketika semua murid berhamburan ke luar kelas untuk
kembali ke rumah masing-masing bak burung-burung yang terbang bebas ke langit
biru.
Seperti biasanya, aku pulang dengan teman sekelasku yaitu Rois Syafi'i atau biasa disapa Ro'is. Kami pulang bersama dengan
jalan kaki karena rumah kami tidah terlalu jauh dengan sekolah yaitu kira-kira sekitar 1 km.
Tibalah aku di rumah, kemudian aku menyapa Ibuku yang
sedang menjemur pakaian di pelataran rumah.
“Assalamu’alaikum,” salamku kepada Ibu dengan mencium
tangan kanannya.
“Wa’alaikumsalam. Sudah pulang Nak, bagaimana di
sekolah?” tanya Ibuku dengan suara lembutnya.
“Baik-baik saja Bu. Ibu hari ini masak apa untukku?” tanyaku.
“Ibu masak sup ayam kesukaanmu, sana lekas makan!”
perintah Ibu padaku sembari meremas pakaian yang akan dijemur.
“Aku tidak sabar mencobanya,” ucapku dengan nada
penasaran sehingga aku langsung masuk ke dalam rumah.
Sebelum makan, aku masuk ke kamar untuk berganti
pakaian dan melaksanakan rukun islam yang ke-2 yaitu salat.
Selesai salat aku merapikan meja belajarku karena
sangat berantakan oleh buku, kemudian aku melihat sebuah kotak kardus kecil
tanpa pembungkus di atas meja belajarku. Aku pun langsung mengambil kotak
kardus itu dan langsung membuangnya ke tempat sampah di depan rumah.
Aku langsung
masuk ke dapur dan menghampiri meja makan yang ternyata berisi banyak makanan
seperti sup ayam, tempe goreng, sambal serta kerupuk udang khas Cirebon. Segeralah
aku makan dengan lahap lauk pauk dengan semangkuk nasi putih hangat.
Tiba-tiba Ayah datang menghampiriku.
“Bagaimana makanannya enak tidak?” tanya Ayah yang
mengagetkanku.
“Ya ampun Ayah mengagetkanku, untung saja aku tidak
tersedak. Iya Ayah makanannya semua enak,” candaku kepada Ayah.
“Memang makanan yang Ibu masak selalu enak,” balas Ayah
padaku.
“Iya,” jawabku sambil memasukan satu suapan nasi ke
dalam mulut.
“Nak, apa kamu sudah menerima hadiah ulang tahunmu
ke-17 dari Ayah di atas meja belajarmu? ” tanya Ayah padaku.
“Hadiah yang seperti apa?” tanyaku dengan singkat.
“Sebuah kardus kecil,” jawab Ayah.
“Jadi di dalam kardus itu ada hadiah ulang tahunku?”
ucapku dengan ekspresi wajah tertegun.
“Iya,” jawab Ayah.
Langsung aku beranjak dari tempat makan dan segera menuju
ke depan rumah untuk melihat tempat sampah yang berisi kotak kardus hadiah
ulang tahunku. Ternyata isi tempat sampah kosong, aku pun bagaikan tersambar petir
yang amat panas pada siang hari yang cerah.
Aku mencari-cari kotak kardus di sekitar rumahku
selama 1.800 detik tetapi hasilnya nihil, aku tidak menemukannya. Aku pun
sangat sedih karena telah membuang hadiah ulang tahunku sendiri.
Tiba-tiba Ibuku datang dan terkejut melihat mataku
berkaca-kaca.
“Kamu kenapa menangis?” tanya Ibu dengan nada
kekhawatiran.
“Aku tidak sengaja membuang hadiah ulang tahunku ke
tempat sampah, tetapi sekarang isi tempat sampah sudah kosong,” jawabku sambil
menagis tersedu-sedu.
“Tadi ada tukang sampah keliling yang membawanya
dengan motor. Coba kamu cari mungkin belum jauh dari sini,” saran Ibu padaku.
Mendengar saran Ibu aku kemudian mencari tukang sampah
keliling di sekitar perumahan. Setelah melangkah sejauh sekitar 25 meter aku
melihat Ibu Asih, seorang wanita berumur setengah abad yang sedang menyapu
halaman rumah. Aku pun menghampiri dan
bertanya kepada Ibu Asih.
“Maaf, apakah Ibu melihat tukang sampah keliling hari
ini?” tanyaku kepada Ibu Asih yang telah 20 tahun menetap di perumahan ini
bersama kedua anak laki-lakinya.
“Iya, tadi saya melihat tukang sampah sedang
beristirahat di ujung sungai itu,” jawab Bu Asih sembari menunjuk ke arah
sungai.
“Terima kasih informasinya Bu,” ucapku dengan memberi
senyuman kecil.
Aku langsung bergegas menuju sungai. Sebelum aku tiba
di sungai aku melihat tukang sampah akan melanjutkan perjalanannya dengan motor
khusus yang dilengkapi tempat sampah di
bagian belakangnya. Karena takut kehilangan jejak tukang sampah aku berlari
memangil tukang sampah agar berhenti.
“Tukang sampah tolong berhenti,” ucapku berulang-ulang
sambil melambaikan tangan kanan ke atas.
Akhirnya tukang sampah menghentikan motornya setelah
mendengar teriakkanku dan menoleh ke arah belakang.
“Pak, saya mau mengambil kotak kardus yang tak sengaja
terbuang,” ucapku dengan nada kelelahan.
“Silakan Neng,” jawab tukang sampah dengan logat Sunda
sambil turun dari motor.
Aku pun mengorek-ngorek keranjang sampah yang berisi
tumpukan sampah rumah tangga dengan kedua tanganku, walaupun bau tapi aku harus
menemukan hadiah pemberian Ayahku.
“Harus ketemu, harus ketemu, harus ketemu,” gumamku
berulang-ulang sambil mengusap keringat yang bercucuran membasahi pelipisku.
“Ketemu, akhirnya hadiahku ketemu juga. Terima kasih Pak
saya mau pulang dulu,” ucapku sambil melompat kegirangan.
“Iya, sama-sama Mas,” jawab tukang sampah.
Aku pulang menuju ke rumah dengan senang karena aku
dapat menemukan hadiah ulang tahunku yang hilang. Karena penasaran aku membuka
kotak kardus dan terkejut melihat isinya, yaitu sebuah buku yang aku
idam-idamkan sejak satu tahun lalu berjudul “ERAGON" yang berisi tentang perjuangan naga dan penunggangnya.
Sampailah aku di rumah, kemudian aku berterima kasih
kepada Ayahku karena telah memberikanku hadiah ulang tahun yang istimewa.
Selain berterima kasih aku juga meminta maaf kepada Ayah karena telah
sembarangan membuang barang.
“Ayah, terima kasih telah memberikanku hadiah yang
begitu istimewa. Tetapi aku juga ingin meminta maaf karena telah sembarangan
membuang hadiahnya tanpa sengaja,” ucapku.
“Iya sama-sama. Ayah akan memaafkanmu jika kamu
berjanji akan berhati-hati membuang barang yang bukan milikmu,” ucapnya.
“Iya aku berjanji tidak akan mengulangi kejadian ini
lagi,” janjiku pada Ayah.
Kami pun saling tertawa ditemani teh hangat sembari
menatap ke arah luar jendela yaitu langit senja yang terguyur oleh derasnya
rintik hujan.


0 komentar:
Posting Komentar